Kegiatan BAI dalam Menyambut Ramadhan 1442 H

Kegiatan BAI dalam Menyambut Ramadhan 1442 H

Semarang-LPMP Jateng, Badan Amalan Islam (BAI) Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah tanggal 12 April 2021 pukul  10.00-12.00
Read More
Membuat Halaman Pendaftaran dan Pembayaran Dengan Mudah Mengunakan Lynk.id

Membuat Halaman Pendaftaran dan Pembayaran Dengan Mudah Mengunakan Lynk.id

Saat ini, ada atau tidak ada pandemi covid-19, banyak kegiatan berubah dari tatap muka secara konvensional berubah menjadi secara daring
Read More
MARI, AKTIFKAN SISWA PADA PEMBELAJARAN, SEKARANG !!!

MARI, AKTIFKAN SISWA PADA PEMBELAJARAN, SEKARANG !!!

Lulud Prijambodo Ario Nugroho Pengembang Teknologi Pembelajaran LPMP Jawa Tengah   Sekarang saatnya guru memilih model pembelajaran berbasis siswa aktif!!! Mengapa? Salah satunya
Read More
Urgensi Keterampilan Literasi Digital Pada Pembelajaran Daring

Urgensi Keterampilan Literasi Digital Pada Pembelajaran Daring

Lulud Prijambodo Ario Nugroho Pengembang Teknologi Pembelajaran LPMP Provinsi Jawa Tengah Pembelajaran dalam jaringan internet, betapapun para warga belajar sudah menjadi terbiasa
Read More

MAKSIMALKAN PENGGUNAAN WEB-SEKOLAH PADA PEMBELAJARAN BLENDED BERBASIS MASALAH

Lulud Prijambodo Ario Nugroho

PTP LPMP Jawa Tengah

Pembelajaran pada masa kini, trend nya mengarah pada moda pembelajaran jarak jauh. Terjadinya pendemi-covid-19 pada tahun 2020 telah memaksa guru di Indonesia untuk merubah cara mengajarnya. Dari semula pembelajaran tatap muka, menjadi pembelajaran daring (dalam Jaringan internet) ataupun luring (luar jaringan internet) bagi daerah sulit jaringan atau sekolah dengan kepemilikan perangkat online dan jumlah kuota terbatas. Pembelajaran dengan menggunakan jaringan internet, banyak ragam dapat dipilih oleh guru. Tentu saja dengan mempertimbangkan kondisi dan keterpakaian baik bagi guru atau peserta didik. Bagi warga belajar, metode pembelajaran favorit mereka tentu saja tatap muka. Pada pembelajaran daring, hal ini dapat difasilitasi dengan menggunakan zoom, google.meet, teams 365 dan masih banyak lagi fasilitas untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Tetapi quota dan daya serap anak akan sangat terbatas, jika guru hanya menggunakan metode tatap muka.

Pada tahun 2021, pemerintah telah memfasilitasi warga sekolah dengan membuatkan akun belajar.id secara gratis. Seluruh warga sekolah maupun para instrukturnya dapat menikmati layanan googlesuite secara gratis. Hal ini mengakibatkan guru dapat memanfaatkan seluruh fasilitas gogle untuk melakukan proses pembelajaran. Dengan memberikan fasilitas ini, kemdikbud sangat berharap, bahwa proses pembelajaran dapat berlangsung lebih dinamis, bukan hanya sekadar “tatap-tatapan” melalui video converence.

Pada google tersedia google classroom. Google classroom ini dapat berfungsi sebagai managemen pembelajaran kelas maya. Kemudain juga terdapat web search. Web dapat bermanfaat menjadi sumber belajar utama atau pendamping selama proses pembelajaran daring, dengan buku sekolah elektronik sebagai sumber belajar utama. Pada google juga telah tersedia fasilitas youtube, dimana youtube juga dapat bermanfaat menjadi sumber belajar utama atau pendamping. Walaupun demikian, kendali materi pada web search maupun youtube, agak rumit. Karena sifat “belajar merdeka” pada google tersebut, akhir terdapat konten-konten diluar penguatan karakter Pancasila, juga dapat muncul, diluar kemampuan guru untuk mengendalikan.

Web sekolah, juga merupakan media sosial milik sekolah. Media web sekolah, secara umum  berfungsi sebagai media informasi dari sekolah kepada seluruh lapisan masyarakat. Biasanya web sekolah memberikan informasi, seputar kegiatan di sekolah. Akan tetapi, sampai saat ini masih jarang ditemui, web sekolah memuat konten-konten pelajaran. Dan, masih jarang ditemukan sekolah dengan memanfaatkan web sekolah sebagai sumber belajar utama pada proses pembelajaran di sekolahnya. Sebenarnya potensi manfaat web sekolah untuk dilibatkan pada proses belajar peserta didik masih dapat dimaksimalkan oleh sekolah.Salah satu manfaatnya adalah untuk mengendalikan konten-konten pelajaran, tanpa guru kuatir dengan munculnya konten-konten diluar kurikulum.

Pembelajaran dengan memanfaatkan web sekolah, perlu dikemas secara dimaksimalkan. Pengemasan pembelajaran dengan tepat, dapat memaksimalkan aktivitas belajar peserta didik. Tentusaja aktivitas belajar tepat dapat memaksimalkan “makna” bagi pesert didik. Nah, pengemasan pembelajaran secara daring, tentu saja memerlukan model pembelajaran. Beragam model pembelajaran blended taupu elektronik , dengan kriteria dapat memaksimalkan aktivitas belajar peserta didik, telah tersedia. Akan tetapi, pada tulisan ini hanya akan dibahas model pembelajaran blended berbasis masalah.

Gambar 1. Pembelajaran Peserta Didik Aktif

Tujuan

Memberikan alternatif pemanfaatan web sekolah pada pembelajaran menggunakan model pembelajaran blended berbasis Masalah

Web Sekolah Sebagai Media Pembelajaran

Web sekolah merupakan sarana informasi milik sekolah kekinian. Dewasa ini hampir sekolah sudah memiliki web. Web tersebut rata rata berisi infoermasi terkait dengan kegiatan sekolah, even-even sekolah baik sedang berlangsung atau akan berlangsung. Juga bermanfaat untuk melaporkan data sekolah terkait visi, misi, program kerja, struktur organisasi atau apapun terkait dengan program sekolah secara manajerial.

Akan tetapi, penggunaan web terkait didaktika, atau proses pembelajaran, sangat jarang diunggah ke dalamnya, terkait strategi belajar, metode belajar, materi pelajaran dan juga termasuk prestasi dan hasil belajar peserta didik. Padahal, pada era milenial ini, pembelajaran secara online, tentunya sangat dapat memanfaatkan web sekolah ini.

Web sekolah sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, baik itu pembelajaran daring ataupun luring. Sayang juga, kalau pemanfaatan web sekolah hanya sebagai “papan informasi” antara sekolah dengan peserta didik, wali siswa atapun masyarakat umum. Penggunaan web sekolah dapat maksimal setelah memiliki kerlibatan secara aktif pada proses belajar peserta didik. Misal menempatkan web sekolah sebagai sumber belajar dan sebagai presensi kehadiran baik bagi guru maupun peserta didik. sebenarnya bisa saja membangun web sekolah sebagai laman dengan fasilitas sebagai kelas maya, tetapi proses itu akan dapat menimbulkan peningkatan biaya operasional cukup mahal, sementara itu di sekitar sekolah sudah tersedia platform penyedia laman untuk mengelola kelas maya dengan biaya murah, misal rumah belajar, google dan Microsoft.

Sahabat sekolah, mari kita maksimalkan manfaat web sekolah sebagai sumber belajar bagi para peserta didik kita. Cara memanfaatkan web sekolah sebagai sumber belajar adalah dengan menambahkan beberapa fitur pada laman sekolah. fitur dapat dikelompokkan menjadi “misal= materi pelajaran, video pembelajaran, materi pelajaran dalam bentuk interaktif” dan presrtasi peserta didik. Pada fitur-fitur tersebut guru dapat mengisi materi pelajaran sesuai dengan kurikulum. Cara menata materi, sekolah dapat mengelola per sekolah ataupun per materi pelajaran. Demikian juga dengan konten dalam bentuk video. Video dikelola sesuai dengan strategi sekolah masing-masing.

Gambar 2. Contoh gambar sebuah web sekolah

Beberapa manfaat bagi sekolah setelah memanfaatkan web sekolah antara lain:

  • Penggunaan materi pelajaran secara online dapat lebih dikendalikan;
  • Aktivitas guru saat melakukan pembelajaran dapat terpantau;
  • Aktivitas belajar peserta didik dapat dikendalikan;
  • Dan tentu saja rate penggunaan web sekolah meningkat.

Pembelajaran Blended Berbasis Masalah

Pembelajaran blended, merupakan suatu model pembelajaran campuran atau bauran model pembelajaran blended lahir karena munculnya beragam lingkungan belajar. lingkungan belajar tersebut antara lain adalah lingkungan belajar tatap muka offline. Selain itu muncul kesulitan guru dalam melengkapi sumber belajar peserta didik di dalam kelas, sehingga guru tersebut mengembangkan konsep belajar dalam kelas dan belajar di luar kelas, tetapi masih dalam satu alur proses pembelajaran. inilah awal mula berkembangnya model pembelajaran blended. seiring dengan pertumbuhan teknologi informasi, Kemudian lahirlah konsep pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran dan sarana belajar peserta didik. Sehingga saat ini telah muncul beragam metode pembelajaran blended. beberapa pendekatan yang lekat dengan konsep pengembangan model pembelajaran blended sampai saat ini antara lain pendekatan pembelajaran inkuiri, konstruktivisme dan konektivisme.

Pembelajarn blended berbasis masalah, merupakan pengembangan baru desain pengebangan model pembelajaran blended. Desain pembelajaran ini, mengacu pada kebutuhan pengembangan pembelajaran jarak jauh. Walaupun jika dimanfaatkan untuk pembelajaran konvensional blended juga dapat maksimal, tetapi pembelajaran dengan perkembangan milenial, menurut pengembang, merupakan hal yang “naif”. Mengapa? Ya tentu saja, lingkungan belajar dengan memanfaatkan jaringan internet sangat terbuka lebar, mengapa kita harus mundur dengan kembali ke konvensional, yah minimal dalam penggunaan internet sebagai penyedia bahan ajar. Terlebih lagi jika guru sudah mampu menggeser posisi dirinya tidak sebagai sumber belajar utama, melainkan sebagai pendamping belajar peserta didik. Sementara posisi sumber belajar utama pada bahan ajar dan sumber belajar terbuka seperti rumah belajar atau perpustakaan terbuka. pengembang yakin, guru tersebut lebih cenderung untuk memanfaatkan internet sebagai mitra dalam membelajarkan peserta didiknya.

Pengembangan model pembelajaran blended berbasis masalah, metode pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada metode pembelajaran berbasis masalah. model pembelajaran berbasis masalah, maka kegiatan pembelajaran selalu mengupayakan interaksi belajar kepada tiga hal, yaitu kegiatan guru, kegiatan peserta didik dan masalah itu sendiri.

Kegiatan antara ketiga interaksi dibangun mandiri, sehingga pada pembelajaran berbasis akan selalu muncul tiga variabel, yaitu peran guru, peran peserta didik dan peran masalah.

Gambar 3. Interaksi social pada pembelajaran blended berbasis masalah

Ketiga peranan tersebut bekerja dengan mengembangkan interaksi sosial, artinya mereka membangun suatu pengetahuan baru dan bermakna bagi para peserta didik khususnya. Mengapa? Karena dalam ketiga interaksi tersebut tampak jelas bahwa guru muncul sebagai orang dewasa dengan peran sebagai pembimbing dan peserta didik memiliki peran sebagai pembelajar. Pada posisi ini baik guru maupun peserta didik akan muncul berpikir (dalam hal ini tentu saja berkembang pola pikir kompleks dan mengarah pada pertumbuhan berpikir kritis dan kreatif pada si peserta didik. Dan pada akhirnya peserta didika akan terbiasa berpikir secara HOTs). Nah, perkembangan berpikir pada peserta didik inilah, jika mereka mampu memberikan solusi  dalam bentuk pemikiran atau karya inovatif dengan nilai manfaat tinggi, akan dapat menumbuhkan kepercayaan diri pada peserta didik.

Sementara itu, peran masalah merupakan faktor dominan, dan dapat dibangun secara konstruktivis oleh peserta didik. Supaya pembelajaran menarik maka harus dimunculkan masalah-masalah autentik. Permasalahan biasanya dimunculkan secara kompleks, sehingga sangat mungkin solusi atau rumusan masalah diselesaikan secara tematik intergratif. Tematik integrative merupakan konsep penyelesaian masalah dengan menggunakan sudat pandang dari beberapa pengetahuan, atau dalam hal ini beberapa mata pelajaran digunakan untuk menyelesaikan satu masalah. pada masalah tematik, tentu diperlukan pula keterlibatan guru mata pelajaran terkait. Apabila hal ini muncul, tentunya guru perlu mendesain masalah unik dan menarik. Sehingga peserta didik dapat memahami peran beberapa ragam pengetahuan yang selama ini dipelajari dan ‘memungkinkan” bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuannya, supaya dapat memberikan solusi-solusi baru. Pembelajaran berbasis masalah dapat mendewasakan cara berpikir para peserta didik.

Gambar 4. Peran masalah dengan mengangkat tema kompleks

Pembelajaran Berbasis Masalah memiliki beberapa ciri, antara lain :a) masalah autentik; b) penyelesaian secara tematik (melibatkan beberapa pengetahuan atau mata pelajaran); c) memiliki produk dalam bentuk karya (tulisan atau benda); 5) dan harus dikerjakan secara kolaboratif. Memang, menerapkan pembelajaran berbasis masalah bukan hal mudah bagi guru. Tetapi memiliki hasil cukup signifikan untuk meningkatkan literasi dan penguatan karakter bagi peserta didik.

 

Prosedur Pembelajaran Blended Berbasis Masalah

Model pembelajaran blended sebenarnya merupakan model pembelajaran sedederhana, karena proses belajar blended hanya dua tahap, yaitu tahap belajar mandiri dan belajar didampingi guru. Kemudian pada proses belajar mandiri juga terdapat dua proses, yaitu proses belajar mandiri dan proses belajar kolaboratif. Akan tetapi, ketika kita kembangkan lingkungan belajar blended, maka prosedur pembelajaran blended menjadi agak rumit, karena peran lingkungan belajar offline dan lingkungan belajar online, mulai ikut mengembangkan metode pembelajaran. Metode pembelajaran blended berbasis masalah mulai menjadi sebuah metode belajar yang rumit bagi guru dalam mengendalikan proses belajar peserta didik.

Prosedur pembelajaran Blended berbasis masalah terdapat lima tahap. Tahap tahap tersebut disajikan pada gambar 3. Pada prosedur pembelajaran, juga disajikan kegiatan guru dan peserta didik. Selain itu, sebagai ciri khas pembelajaran blended, juga dituliskan strategi pembelajaran sesuai dengan tahap pembelajaran.

Pembelajaran Blended Berbasis masalah, menurut pengembang sudah merupakan model pembelajaran mezzo. Karena penerapan pembelajarannya sudah melibatkan beberapa guru mata pelajaran untuk menyelesaikan satu masalah. Pembelajaran mezzo merupakan sebuah model pembelajaran, dimana beberapa guru harus mampu bekerjasama, baik antara sesame guru mata pelajaran maupun peserta didik pada pelajaran berbeda dengan jam pelajaran terpisah. Perencanaan detil tentu saja diperlukan, supaya memperoleh hasil belajar maksimal dan tentu saja peningkatan kepercayaan diri baik bagi peserta didik maupun guru.

Gambar 5. Prosedur pembelajaran blended berbasis masalah

Penutup

Web sekolah dapat dimaksimalkan pula pemanfaatannya bagi sekolah, satu sekolah atau beberapa sekolah, sehingga terjadi peningkatan keterampilan literasi dan penguatan karakter pada sekolah. terus terang saja guru, kita akan sangat merugi, jika web sekolah hanya dimanfaatk sebagai papan informasi saja, yuks maksimalkan penggunaannya.

Pemanfaatkan web sekolah pada proses pembelajaran, sangat mendukung peningkatan keterampilan literasi peserta didik, terutama pada literasi membaca dan literasi digital. Web sekolah dapat pula menguatkan karakter Pancasila pada anak didik kita, karena secara tidak langsung telah memberikan teladan bagi peserta didik tentang cara memilih konten., akan tetapi keberhasilan guru mengaktifkan peserta didik dalam  belajar, sangat tergantung pada keterampilan guru dalam memilis model pembelajaran dengan tepat. Sebagaimana kita ketahui bersama sebuah model pembelajaran telah lengkap berisi tentang pendekatan, strategi, metode, media bahkan tentang cara menilai proses pembelajaran. Sehingga guru tinggal memilih model pembelajaran man, pakai dan evaluasi hasilnya.

Model Pembelajaran Blended berbasis masalah, tentu saja hanya merupakan satu alternative dari banyak ragam inovasi pembelajaran saat ini. Model pembelajaran ini sangat cocok bila dimanfaatkan untuk melakukan proses belajar, dimana guru diminta untuk mengaktifkan peserta didik secara maksimal.

Daftar Rujukan

Dwiyogo, Wasis D. 2018. Pembelajaran Berbasis Blended Learning. Depok: Raja Grafindo.

Hwang, A. 2018. ‘Online and Hybrid Learning’, Journal of Management Education, 42(4), pp. 557–563. doi: 10.1177/1052562918777550

Siberman, M. 2017. Active learning (101 strategi pembelajaran aktif). Nuansa Cendekia. Bandung.

Sumantri, Mohammad Syarif. 2015. Strategi Pembelajaran; Teori dan Praktek di Tingkat Pendidikan Dasar. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Bart, M. (2014). Blended and flipped: exploring new models for effective teaching 113 and learning. Faculty focus (Special Report). Madison, Wisconsin: Magna Publications.

Darmawan, D. (2014). Pengembangan E-Learning: Teori dan Desain. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor : Ghalia Indonesia.

Ibnu, T, 2014. Mendesain model pembelajaran inovatif, progressif, dan konstektual : konsep, landasan, dan implementasinya pada kurikulum 2013. Jakarta: Kencana

Rusman. 2014. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah. Bandung, Jurnal Edutech, tahun 13 Vol 1, no 2

Lepinski., (2005), Problem Based Learning: A New Approach To Teaching, Training & Developing Employees. Cokie Lepinski, Assistant Communications Manager Marin County Sheriff’s Office

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

iklan