Proyeksi Layar HP Ke PC dan Laptop : Screen Mirroring Menggunakan Vysor

Dwi Kustari, S.Sos. BBPMP Provinsi Jawa Tengah   Pengantar Saat melakukan presentasi tentang sebuah aplikasi, terkadang kita dituntut untuk menunjukkan...
Read More

Laporan ULT Bulan Maret 2022

Laporan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) Bulan Maret 2022 ULT LPMP Provinsi Jawa Tengah   Jumlah Pengunjung ULT LPMP Provinsi Jawa...
Read More

Release Update ARKAS V 3.3

Pada Tanggal 21 April 2022 Aplikasi arkas update Release Update ARKAS V 3.3. Berikut adalah listperbaikannya: 1. Penyesuaian tarif PPn...
Read More

Bimtek Platform Merdeka Belajar dan IKM bagi Pengawas Angkatan I

Semarang-LPMP Jateng.  Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Bimbingan Teknis Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar dan Implementasi Kurikulum Merdeka...
Read More

Belajar 5S di Negeri Jiran

Dalam suatu kunjungan ke Malaysia beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mempelajari  penerapan 5S di sekolah. Salah satu sekolah yang saya kunjungi adalah SMK (Sekolah Menengah Kebangsaan) Petra Jaya di Kuching, Sarawak. Program 5S telah diterapkan di sekolah itu dalam mewujudkan budaya kerja yang efektif dan efisien.

Visi dan Misi SMK Petra Jaya

Apa itu 5S? Bagaimana penerapan program 5S di sekolah? Berikut ini saya paparkan secara ringkas konsep 5S dan gambaran pelaksanaannya di sekolah.

Program 5S di Sarawak terdiri atas Sisih, Susun, Sapu, Seragam, dan Sentiasa Amal. Program itu diadaptasi dari sistem budaya kerja Jepang melalui penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Saat ini, program 5S telah banyak diterapkan di berbagai negara, khususnya di bidang industri. Sesungguhnya sekolah di Indonesia, sudah pula menerapkan program tersebut dengan dengan nama 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin). Ada pula yang menamai 5P (Pemilahan, Penataan, Pembersihan, Penjagaan, dan Penyadaran). Penjelasan atas tiap langkah kegiatan 5S di sekolah Sarawak akan saya sampaikan berikut ini.

Papan Pemahaman 5S di dinding sekolah

  1. Sisih (Seiri)

Merupakan langkah pertama dalam penerapan 5S. Kegiatannya adalah menyisihkan barang yang masih diperlukan dan barang yang tidak diperlukan di tempat kerja. Barang yang masih diperlukan dapat disimpan, yang tidak berguna bisa dibuang.

Dalam langkah penyisihan ini, guru dapat melakukan pelabelan terhadap barang atau buku yang sangat diperlukan dilabeli hijau, masih diperlukan dilabeli kuning, dan label hitam diberikan pada barang atau buku yang sudah tidak diperlukan. Selanjutnya, semua yang berlabel hitam disingkirkan dari meja atau almari guru. Semakin ramping atau ringkas, maka semakin efisien tempat bekerja itu.

  1. Susun (Seiton)

Susun merupakan kegiatan kedua setelah penyisihan. Kegiatannya berupa penyusunan barang-barang yang diperlukan dengan teratur supaya mudah diambil dan dikembalikan serta diberi indikasi.

Pemberian indikasi atau penanda barang dimaksudkan agar mudah dalam menemukan barang. Dengan demikian, mengurangi pemborasan waktu dengan sibuk mondar-mandir mencari barang yang diperlukan. Bagi guru, wujud kegiatan Susun ini berurusan dengan penataan buku pelajaran, perangkat pembelajaran, alat penilaian, media pembelajaran, dan barang lainnya. Semua itu tertata rapi di atas meja, laci, maupun almari. Begitulah kenyataan yang saya lihat di ruang guru SMK Petra Jaya, Sarawak tampak bersih dan rapi.

  1. Sapu (Seiso)

Sapu merupakan langkah ketiga setelah penyusunan, yaitu: pembersihan terhadap barang yang tersimpan atau habis dipakai. Pembersihan atau penyapuan juga dilakukan terhadap lingkungan kerja, peralatan, dan mesin pendukung bekerja.

Implementasi Sapu di sekolah terwujud dalam bentuk menjaga kebersihan ruang guru, kelas, laboratorium, perpustakaan, halaman sekolah, toilet, tempat ibadah, dan lingkungan sekolah. Kebersihan sekolah memungkinkan siswa betah dan nyaman belajar. Kebersihan lingkungan sekolah berkontribusi terhadap efektivitas pembelajaran dan pendidikan. Motivasi bekerja juga akan meningkat manakala tempat bekerja bersih, tertata rapi, dan nyaman.

  1. Seragam (Seiketsu)

            Seragam adalah kegiatan setelah Sisih, Susun, dan Sapu. Seragam dalam bahasa Indonesia dapat dimaknai standarisasi, yaitu penjagaan agar barang dan tempat bekerja yang sudah tertata rapi dan bersih menjadi standar kerja. Keadaan yang sudah tercipta berkat Sisih, Susun, dan Sapu harus dijaga dengan adanya Prosedur Operasional Standar (POS).

Implementasi Seragam di sekolah Petra Jaya yang saya lihat adalah adanya tata tertib penggunaan laboratorium, peminjaman buku di perpustakaan, dan petunjuk pengoperasian mesin fotokopi. Semua perangkat, alat pendukung pelajaran selalu terdapat petunjuk penggunaannya. Setiap saklar lampu tertera keterangan untuk menyalakan lampu bagian yang mana. Tersedia pula dokumen berupa Prosedur Operasional Standar untuk melakukan penyusunan perangkat pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menyelenggarakan penilaian hasil pembelajaran. Standar-standar itu disosialisasikan, dipahami, dan dilaksanakan oleh warga sekolah. Secara berkala standar itu akan direviu dan direvisi untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan perubahan yang terjadi.

  1. Sentiasa Amal (Shitsuke)

Sentiasa Amal dapat dipadankan dengan istilah disiplin. Pengertiannya adalah melaksanakan program 5S secara terus-menerus sehingga menjadi budaya kerja.

Wujud kegiatan dalam Sentiasa Amal berupa disiplin terhadap standar yang ditetapkan. Saling menghormati pengguna fasilitas kerja. Menjunjung tinggi etika bekerja. Malu melakukan pelanggaran. Senang melakukan inovasi. Selalu berorientasi terhadap kemajuan.

Hasil 5S di laci meja administrasi sekolah

Program 5S kiranya bukan merupakan program yang sulit dipahami, melainkan tidak mudah dilaksanakan secara benar. Saya yakin sebagian sekolah di Indonesia telah menerapkan program itu. Namun demikian, penerapannya jarang yang dapat melakukan secara benar. Kesuksesan program 5S di sekolah membutuhkan sejumlah tata nilai seperti komitmen, integritas, kreatif, inovatif, kreatif, dan kontinyu.

Akhir kata, selamat mencoba menerapkan 5S di sekolah. Mari jadikan 5S sebagai kebiasaan kita dalam bekerja di sekolah. Kebiasan 5S semestinya menjadi kebutuhan bukan kewajiban. Jangan berharap program 5S dapat mengubah sekolah secara instan dan dramatis. Lakukan secara terus-menerus hingga menjadi budaya kerja. Dengan cara kerja yang benar, yang efektif, dan efisien tentu saja kita boleh berharap mendapat hasil kerja yang baik. Hasil pendidikan yang bermutu selalu berbanding lurus dengan proses pendidikan yang bermutu pula.(SL,170718)

*) Slamet Trihartanto, Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

One thought on “Belajar 5S di Negeri Jiran

  • December 14, 2018 at 8:51 am
    Permalink

    Sangat mengispirasi pak…..

    Reply

Leave a Reply to Rosiman Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

iklan