Thursday, October 23, 2014
   
Text Size

Search

Total Dibaca: 6105

MENGATASI MASALAH PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA MATERI TRANSFORMASI GEOMETRI

User Rating: / 9
PoorBest 

MENGATASI MASALAH PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA

MATERI TRANSFORMASI GEOMETRI

Pujiadi

LPMP Jawa Tengah

Abstrak

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang pesat, baik materi maupun kegunaannya. Karena sifatnya yang abstrak maka dituntut kemampuan guru matematika untuk dapat mengupayakan penggunaan model dan media pembelajaran yang tepat, agar dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka berkembang pula jenis media pembelajaran yang lebih menarik dan dapat digunakan baik di sekolah maupun di rumah. Salah satunya adalah MPI. MPI merupakan media pembelajaran yang diharapkan akan efektif untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran matematika SMA khususnya materi transformasi geometri.

Kata Kunci : Transformasi Geometri, Pembelajaran Matematika, MPI

A. Pendahuluan

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang pesat, baik materi maupun kegunaannya. Dengan demikian upaya penyusunan kembali atau penyempurnaan kurikulum matematika sekolah perlu mempertimbangkan perkembangan-perkembangan tersebut serta kemungkinan masa depan (Malik, 1994).

Adapun ciri matematika yakni memiliki objek kajian yang abstark, mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan, sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif, dan dijiwai oleh kebenaran konsistensi. (Suyitno dkk., 2004). Karena sifatnya yang abstrak maka menurut Fowler (dalam Pandoyo, 1997) dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan penggunaan model dan media pembelajaran yang tepat agar dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.

Dengan demikian seorang guru matematika memiliki tugas ganda. Pertama, bagaimana materi ajar sampai kepada peserta didik sesuai dengan standar kurikulum. Kedua, bagaimana proses pembelajaran berlangsung dengan pelibatan peserta didik secara penuh, dalam artian proses pembelajaran yang berlangsung dapat berjalan dengan menyenangkan. Ini adalah tantangan bagi guru matematika untuk senantiasa berpikir dan bertindak kreatif.

Berkaitan dengan tugas yang kedua, menurut Yaniyawati (2006) pada dasarnya atmosfer pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran utama, yakni siswa, kompetensi guru, dan fasilitas pembelajaran. Ketiga prasyarat itu pada akhirnya bermuara pada area proses dan model pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran matematika antara lain memiliki nilai relevansi dengan pencapaian daya matematika dan memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas guru. Kemudian berpotensi mengembangkan suasana belajar mandiri selain dapat menarik perhatian siswa, dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum kemajuan teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi informasi.

Namun di sisi lain, menurut Sobel dan Maletsky (dalam Nuriana, 2006) banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas lalu, memberi pelajaran baru, memberi tugas pada siswa. Pembelajaran seperti itu yang rutin dilakukan hampir setiap dapat dikatagorikan sebagai 3M, yakni membosankan, membahayakan dan merusak seluruh minat siswa. Apabila pembelajaran seperti ini terus dilakukan maka kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tidak akan dapat tercapai secara optimal.

Kasus khusus pada pembelajaran materi transformasi geometri, sementara ini –berdasar pengamatan penulis- terlihat bahwa belajar transformasi geometri merupakan pembelajaran yang memberatkan dan tidak menarik minat siswa. Atas situasi ini, guru matematika hendaknya memikirkan dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan mengemas proses pembelajaran yang lebih bermakna, menarik, mengikuti perkembangan iptek, serta dapat membantu siswa meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan demikian, perlu sekiranya diupayakan media pembelajaran (disamping model pembelajaran) yang sesuai dengan materi transformasi geometri.

Salah satu alternatif media pembelajaran yang dapat digunakan adalah media pembelajaran interaktif (MPI). Penggunaan MPI sebagai media pembelajaran merupakan alternatif cara yang diharapkan cukup memadai dalam membantu siswa (dan guru) dalam menciptakan pembelajaran yang efektif. Dengan bantuan MPI melalui berbagai program animasinya, konsep dan masalah materi pembelajaran yang sebelumnya hanya dituliskan dan digambarkan dalam buku maka selanjutnya dapat ditampilkan bentuk tayangan audiovisual.

B. Kajian Teori

Teori Belajar dan Pembelajaran Matematika

Menurut J. Bruner (Hidayat, 2004) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat dinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar mengajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tiga tahap, yakni tahap, enaktif , tahap Ikonik, dan tahap Simbolik.

Tahap enaktif, yaitu suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkrit atau situasi yang nyata. Tahap ikonik, merupakan tahap pembelajaran dimana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkrit atau situasi konkrit yang terdapat pada tahap enaktif. Selanjtnya tahap simbolik, adalah tahap pembelajaran dimana pengetahuan itu direpresentasaikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, baik simbol-simbol verbal, lambang-lambang matematika maupun lambang-lambang abstrak lainnya.

Di sisi lain, menurut Suyitno (2004) pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Agar tujuan pengajaran dapat tercapai, guru harus mampu mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis. Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajar.

Terkait hal ini, Marpaung (2006) menyatakan bahwa pembelajaran konvensional yang sampai sekarang masih dominan dilaksanakan dalam pembelajaran matematika di sekolah di Indonesia ternyata tidak berhasil membuat siswa memahami dengan baik apa yang mereka pelajari. Pemahaman yang mereka miliki hanya pemahaman instrumental bukan pemahaman relasional.

Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan

Pada kurikulum satuan tingkat pendidikan (KTSP) untuk sekolah menengah, potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan dalam proses belajar matematika, siswa dituntut untuk mampu melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan, mengembangkan kreativitas dengan imajinasi, intuisi dan penemuannya, melakukan kegiatan pemecahan masalah, dan mengkomunikasikan pemikiran matematisnya pada orang lain (Depdiknas, 2003).

Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa, menciptakan susana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, dan menghargai setiap pencapaian siswa (Depdiknas, 2003).

Selain itu di dalam mempelajari matematika, siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda. Oleh karenanya diperlukan usaha guru untuk menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga dan media pembelajaran yang menarik perhatian siswa, memberi kesempatan belajar matematika diperbagai tempat dan keadaan, memberi kesempatan menggunakan matematika untuk berbagai keperluan, mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah, mengharagai sumbangan tradisi, budaya dan seni di dalam pengembangan matematika, dan membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya (Depdiknas, 2003).

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan, memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan baik di sekolah maupun di rumah.

Media Pembelajaran Matematika dan MPI

Penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang, karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa akan lebih mudah memahami konsep matematika yang bersiafat abstrak. Menurut Fowler H.W. (Suyitno, 2004) matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak, sehingga untuk menunjang kelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstarksi siswa.

Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan matematika antara lain untuk mengurangi atau menghindari terjadi salah komunikasi, membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa, dan membuat konsep matematika yang abstrak dapat disajikan dalam bentuk kongkret sehingga lebih dapat dipahami, dimengerti dan disajikan sesuai dengan tingkat berfikir siswa (Darhim, 1993).

Jadi, salah satu fungsi media pembelajaran matematika adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir, sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati, 1994).

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka berkembang pula jenis media pembelajaran yang lebih menarik dan dapat digunakan baik di sekolah maupun di rumah. Salah satunya adalah media pembelajaran yang berbentuk MPI.

Prinsip teknologi National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menyatakan bahwa teknologi diperlukan dalam pengajaran dan pembelajaran matematika. Teknologi memberikan pengaruh dalam pembelajaran dan peningkatan belajar siswa. Guru-guru tertarik pada implementasi prinsip teknologi NCTM dengan pokok-pokok pengggunaan software sebagai awal yang utama. Dan untuk mendapatkan software matematika yang baik, seorang harus cukup mendapatkan kesempatan belajar menggunakan software dan memikirkan hal-hal: bagaimana seharusnya software tersebut digunakan secara tepat dalam pembelajaran; bagaimana menggunakan software untuk memperkaya pengetahuan; bagaimana dan kapan software digunakan secara tepat dalam perbaikan mutu pendidikan; bagaimana menganjurkan orang tua membeli software untuk membantu anak dalam pembelajaran matematika di rumah; bagaimana menilai pemahaman siswa dan pengembangan ketrampilan siswa dalam penggunaan software; bagaimana menyesuaikan pengajaran untuk siswa teretntu yang membutuhkan penggunaan teknologi; dan bagaimana penggunaan program software tersebut untuk meningkatkan pembelajaran matematika dan penerapannya dalam kurikulum (Kerrigan, 2004).

Senada dengan ini, Kasmadi (1991) menyatakan bahwa dengan bantuan sarana audiovisual pengajaran dapat dipermudah dan disederhanakan. Dan sarana audiovisual akan dapat dikatakan efektif jika, sederhana dan tepat pada sasarannya, tepat dan relevan untuk suatu tugas pengajaran, esensial dan penting, menarik dan menantang, serta menghemat tenaga dan waktu.

Uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa penggunaan MPI merupakan alternatif pemilihan media pembelajaran matematika yang cukup mudah dan efektif. Terlebih akhir-akhir ini dilingkungan pendidikan, penggunaan media pembelajaran yang berbentuk MPI bukan merupakan hal baru dan dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah.

Materi transformasi geometri mengandung konsep-konsep abstrak yang harus dikuasai oleh siswa, oleh karenanya diperlukan media pembelajaran yang cocok untuk membantu abstraksi siswa. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi khususnya teknologi komputer, maka media komputer dan MPI dapat digunakan sebagai alternatif penggunaan media dalam pembelajaran matematika termasuk materi transformasi geometri. Demikian pula dengan memanfaatkan media komputer dan MPI, guru dapat menyajikan konsep-konsep transformasi geometri tidak hanya dengan dibayangkan, tetapi bisa dilihat dengan tampilan maupun gambar-gambar ilustrasi.

Schramm (1984) mengemukakan bahwa komputer memiliki kemampuan yang luar biasa dibandingkan media lainnya. Sedangkan MPI merupakan salah satu sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dimana di dalamnya telah diinstal program yang disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Arsyad (2006) menyebutnya sebagai media mutahir berbasis komputer yang diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih ”hidup” dan melibatkan interaktifitas siswa.

 

C. MPI Transformasi Geometri dan Implementasinya dalam Pembelajaran

MPI Transformasi Geometri merupakan rancangan khusus dari konsep/ materi Transformasi Geometri yang dikemas dalam bentuk media pembelajaran yang bersifat interaktif. Melalui media ini siswa dapat mengikuti pembelajaran Transformasi Geometri baik secara mandiri maupun bersama-sama. Media ini memuat keseluruhan konsep-konsep Transformasi Geometri beserta berbagai animasi yang diperlukan dan contoh-contoh soal yang sesui, serta dilengkapi dengan uji kompetensi. Jadi dengan media ini diharapkan pembelajaran bisa berjalan secara efektif dan siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan serta memahami dengan baik konsep-konsep Transformasi Geometri.

Adapun implemantasi MPI Transformasi Geometri dalam pembelajaran, secara umum didasarkan pada taksonomi Briggs dan Gagne (dalam Schramm, 1984) yakni sebagai berikut.

  1. Mengarahkan perhatian. Suatu motivasi disampaikan untuk membangkitkan minat atau keinginannya. Hal ini dapat berupa pertanyaan, tantangan, demonstrasi, penggantian gambar dengan cepat dan lain-lain.
  2. Memberitahukan tujuan yang hendak dicapai. Siswa hendaknya tahu bagaimana ia tahu bagaimana ia telah belajar mengetahui yang diharapkan untuk dikuasainya, setelah selesai mengikuti pelajaran.
  3. Merangsang timbulnya ingatan tentang kemampuan atau pengetahuan yang dipersyaratkan yang telah dipelajari. Disamping belajar yang fundamental, siswa harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu yang telah dipelajari sehingga dapat digunakan ketika melakukan tugas baru. Masalahnya disini adalah mengingatkan siswa pada latar belakang pengetahuan ini.
  4. Menyampaikan bahan pelajaran yang dijadikan rangsangan. Bila siswa telah siap sedia, hendaknya ditunjukkan kepadanya bahan yang akan dipelajari atau dikerjakan.
  5. Memberikan petunjuk atau tuntunan dalam kegiatan belajar. Siswa memerlukan pengarahan dengan jalan memberikan petunjuk, mengadakan pertanyaan atau isyarat, yang menuju pada pemahaman tentang sasaran yang hendak dicapai.
  6. Memancing penampilan siswa. Setelah siswa mengetahui tujuan belajar maka herndaknya ia ditantang untuk menunjukkan bahwa ia dapat mengerjakannnya sendiri mungkin dengan penggunaan contoh, atau dengan menyajikan masalah.
  7. Memberikan umpan balik (feed back). Kepada siswa perlu diberitahu ketepatan penamplannya dengan kata-kata atau anggukkan atau dengan cara lain.
  8. Menilai/evaluasi terhadap siswa. Untuk mengetahui bahwa siswa telah memahami materi/konsep yang diberikan, hendaknya diberikan evaluasi.
  9. Merangsang kemampuan mengingat dan mentransfer (hasil belajar). Hal ini dilakukan melalui tugas-tugas yang diberikan.

Secara teknis, penggunaan MPI geometri tansformasi dapat dilakukan dengan dua cara, yakni pada pembelajaran klasikal dan pembelajaran mandiri. Pada pembelajaran klasikal MPI ini digunakan secara bersama-sama di dalam kelas dengan panduan guru, yang mendemonstrasikannya melalui tayangan LCD. Sedangkan pada pembelajaran mandiri siswa tinggal mengoperaskan MPI ini pada perangkat komputer yang sudah di update. Semua instruksi untuk menjalankan program ini sudah tercantum dengan jelas, siswa tinggal memilih menu-menu yang diinginkan karena sudah terdapat navigasi yang terpadu pada panel, dan dapat dilakukan secara berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan.

D. Simpulan

Penggunaan MPI Transformasi Geometri sebagai media pembelajaran merupakan alternatif cara yang cukup memadai dalam menciptakan pembelajaran matematika yang efektif, sehingga diharapkan dapat membantu siswa (dan guru) untuk mengatasi masalah – khususnya – pada pembelajaran materi transformasi geometri.


Daftar Pustaka

Arsyad, A. 2006. Media Pembelajaran. PT. Raja Grafindo Perkasa. Jakarta.

Darhim. 1993. Work Shop Matematika. Jakarta : Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara DIII

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Barbasis Kompetensi Sekolah Menengah Atas Mata Pelajaran Matematika. Jakarta .

Dimyati, M. 1994. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Depdikbud.

Hidayat. 2004. Diktat Kuliah Teori Pembelajaran Matematika. Semarang : FPMIPA UNNES.

Kasmadi, H. 1991. Taktik Mengajar. Semarang : IKIP Semarang Press

Kerrigan, J. Using Mathematimatic’s Software to Enhance Elementary Students’ Learning. Tersedia di: :http://my.nctm.org/eresources/view_article_id=6479 &page=1 [14 Februari 2007)

Malik, A. 1994. Matematika di Sekolah-sekolah Indonesia Dahulu, Sekarang, dan Masa Depan. Piadato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Madia pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP Semarang. Semarang.

Marpaung, Y. 2006. Pendekatan Multikultural dalam Pembelajaran Matematika (Makalah)

Nuriana, R.D. Model Pembelajaran Creative Problem Solving dengan Video Campact Disk dalam Pembelajaran Matematika. Tersedia di: http://www.mathematic.transdigit.com/index.php/mathematic-journal/model-pembelajaran-creative-problem-solving-dengan-video-compact-disk-dalam-pembelajaran-matematika.html [14 Februari 2007].

Pandoyo. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Semarang : IKIP Semarang Press.

Schramm, W. 1984. Media Besar Media Kecil. Semarang : IKIP Semarang Press.

Suyitno, A. Pandoyo. Hidayah, I. Suhito, Suparyan. 2000. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang : Pendidikan Matematika FPMIPA Unnes.

Yaniyawati, P. 2006. Mengajar Menyenangi Matematika. Bandung : Pikiran Rakyat (edisi 27 Maret 2006).

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Latest Comments