Membentengi Narkoba
PENGARUH narkoba sudah masuk ke segala lini. Tak peduli menyerang siapa saja. Anak pejabat, pelajar, mahasiswa, anggota legislatif, pilot, bahkan yang paling memperihatinkan aparat penegak hukum menjadi pengguna narkoba.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan mengapa narkoba peredarannya begitu kencang di tengah masyarakat? Pemicunya adalah pemangku negeri yang diberi amanah menjaga moralitas masyarakat, justru bertengkar sendiri memperebutkan kekuasaan. Dengan begitu, para pemangku negeri yang seharusnya berada pada garda depan memerangi narkoba, tak ada gereget memberantas barang haram itu. Basis keluarga merupakan bagian lain benteng utama mencegah agar narkoba tak merasuki anak. Tapi, kesibukan orang tua membuat mereka tak fokus mendidik anak. Pengasuhan anak diserahkan kepada pembantu atau tempat penitipan anak. Begitu pula lembaga pendidikan. Secara formal lembaga ini mempunyai peran utama untuk menaburi benih nilai budi pekerti pada anak didik.
Kehilangan Orientasi
Jika ada orang di sekitar merayu untuk mencicipi narkoba, anak didik langsung menolak, karena mereka tahu tindakan yang dilakukan salah yang bisa berakibat fatal bagi diri sendiri. Tetapi, tipis sekali harapan disandarkan kepada lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sudah kehilangan orientasi luhur untuk mendidik anak bangsa agar memiliki kecerdasan budi pekerti, seperti kecerdasan spiritualitas dan moral. Lembaga pendidikan sekadar berorientasi meningkatkan gengsi dengan mendongkrak nilai pelajaran. Sekolah dianggap bermutu apabila mampu menjadi juara ujian nasional.
Dengan begitu, anak didik hanya pintar dalam mengotak-atik soal, tetapi kepribadiannya kurang tangguh dalam menghadapi berbagai gempuran pengaruh negatif. Seperti desakan untuk mengonsumsi narkoba. Melihat realitas begitu rapuhnya berbagai elemen menangkal pengaruh narkoba, perlu dijalankan cara luar biasa agar terbebas dari jerat narkoba. Cara luar biasa yang bisa dilakukan adalah membangun benteng di semua lini, sebagai basis pertahanan untuk menahan gempuran bombardir narkoba. Semua lini itu adalah pemangku kebijakan harus menciptkanan kebijakan secara sistemik yang memberikan efek jera bagi pengguna maupun pengedar.
Lini berikutnya adalah membangun kembali fungsi dari keluarga sebagai ladang subur menyemai moralitas. Lembaga pendidikan juga melakukan evaluasi diri untuk menerapkan proses pembelajaran dengan mengembangkan kecerdasan budi pekerti.
Dan, benteng terakhir berupa menciptakan solidaritas sosial secara bersama-sama untuk menanggulangi bahaya narkoba. Solidaritas sosial ditebarkan melalui rukun tetangga, kantor, sekolah, hingga lingkungan yang lebih luas. Kalau semua lini sudah tercipta kesadaran menanggulangi bahaya narkoba, secara harmoni akan menyatakan: say no to drugs.
Hadi Suyono, dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Sumber : SM
| Comments |
|
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."
Newer news items:
Older news items:
- Seputar Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah - Wednesday, 07 March 2012
- Menanti Sertifikasi Pustakawan - Tuesday, 06 March 2012
- Peran Administrasi Publik dalam Reformasi Birokrasi di Indonesia - Saturday, 21 May 2011
- MANUSIA - Thursday, 28 April 2011
- Fungsi Trigonometri Untuk Menentukan Arah Kiblat - Friday, 15 April 2011
Facebook
Twitter
Del.icoi.us
Blogger
Nunggu NUPTK edit - Semoga info bulan...
NUPTK belum muncul - Assalamu'alaikum...
mohon daftar kelulusan sertifikasi 20...
kelu kesah - banyak guru yg tidak bis...
Mohon maaf Bapak ibu barang kali ada ...